Ribuan Jamaah Hadiri Semaan Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin Gus Miek di Balai Desa Umbulsari

Ribuan Jamaah Hadiri Semaan Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin Gus Miek di Balai Desa Umbulsari

Umbulsari, 25 Oktober 2025 – Balai Desa Umbulsari pada hari Sabtu, 25 Oktober 2025, dipenuhi oleh ribuan jamaah yang memadati area untuk mengikuti acara rutin Majelis Semaan Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin Moloekatan Gus Miek. Acara keagamaan yang sudah dikenal luas di kalangan pecinta ajaran KH. Hamim Thohari Djazuli (Gus Miek) ini berlangsung dengan penuh khidmat, membawa suasana spiritual yang mendalam bagi seluruh yang hadir.

Khidmatnya Pembacaan Al-Qur’an dan Dzikir

Semaan Al-Qur’an dimulai sejak pagi hari, di mana para Hafiz (penghafal Al-Qur’an) secara bergantian melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an hingga khatam (tamat 30 juz). Suara merdu para pembaca Al-Qur’an menciptakan ketenangan dan kedamaian di Balai Desa Umbulsari.

Setelah jeda istirahat dan pelaksanaan salat berjamaah, acara dilanjutkan dengan Dzikrul Ghofilin, amalan dzikir yang diajarkan oleh Gus Miek. Pembacaan aurad (rangkaian dzikir) dipimpin oleh salah satu dzurriyah (keturunan) atau penerus beliau, yang kemudian diikuti oleh ribuan jamaah dengan penuh konsentrasi dan penghayatan. Dzikrul Ghofilin ini menjadi puncak acara yang diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran diri dan kedekatan kepada Allah SWT bagi para jamaah yang hadir.

Wujud Cinta dan Menghidupkan Ajaran Gus Miek

Kepala Desa Umbulsari dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terpilihnya Balai Desa mereka sebagai lokasi penyelenggaraan majelis yang mulia ini. Ia berharap agar kegiatan ini dapat terus dilaksanakan secara rutin dan membawa keberkahan bagi masyarakat Umbulsari dan sekitarnya.

Kehadiran ribuan jamaah dari berbagai daerah, meskipun Gus Miek sendiri telah wafat (beliau wafat pada tahun 1993), menunjukkan besarnya cinta dan penghormatan umat terhadap ajaran beliau. Majelis Semaan Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin Moloekatan Gus Miek merupakan sarana untuk menjaga dan menghidupkan warisan spiritual beliau, yang dikenal dengan gaya dakwahnya yang merangkul semua kalangan, bahkan di tempat-tempat yang tidak biasa.

Acara ditutup dengan pembacaan doa Khotmil Qur’an dan doa penutup, memohon keselamatan, keberkahan, serta ampunan. Para jamaah kemudian membubarkan diri dengan tertib, membawa pulang bekal ketenangan batin dan harapan untuk dapat mengamalkan ajaran yang telah mereka dengar dan ikuti.