Tradisi Moloekatan yang diwariskan KH. Hamim Jazuli atau Gus Miek tetap menjadi oase spiritual bagi ribuan pencari ketenangan batin.
Dikenal sebagai majelis dzikir jalanan, Moloekatan menjadi simbol dakwah tanpa sekat yang merangkul siapa saja, tanpa melihat latar belakang sosial maupun kesalehan seseorang.
Majelis ini memiliki ciri khas tersendiri, yaitu formatnya sederhana dan inklusif, dimulai dari sema’an Al-Qur’an, dzikir berjamaah, shalawat, hingga doa bersama.
Lokasi kegiatan Moloekatan ini biasanya digelar di rumah-rumah warga, masjid desa, pendopo atau kantor desa, hingga di kompleks pondok pesantren.
Tradisi yang berakar dari ajaran tasawuf ini kini berkembang ke berbagai penjuru Indonesia.
Kini, warisan yang diturunkan oleh Gus Miek ini menyebar di berbagai daerah seperti di Yogyakarta, Madiun, Jember, Surabaya, Banyuwangi, hingga Bojonegoro.
Biasanya, Moloekatan rutin diadakan di malam-malam hari tertentu seperti malam Sabtu Pahing, Rabu Legi, Kamis Pahing, tergantung masing-masing komunitas di tempat Moloekatan tersebut digelar.
Moloekatan rutin digelar oleh komunitas pecinta Gus Miek yang mengikuti Majelis Sema’an Al-Quran dan Dzikrul Ghofilin yang didirikan oleh Gus Miek dahulu.
Istilah Moloekatan sendiri berasal dari bahasa kuno yang merujuk pada ibadah malam atau tirakat
Namun maknanya lebih dalam dari sekadar ritual. Moloekatan menjadi ruang spiritual yang menerima siapa pun, termasuk mereka yang merasa “terlambat” kembali ke jalan Tuhan.
Gus Miek dikenal sebagai figur yang mendobrak batas-batas formalitas dakwah.
Melalui Moloekatan, ia mengajak orang-orang dari berbagai latar belakang, mulai dari santri, orang jalanan hingga kalangan orang yang dianggap “nakal” pun diajak untuk kembali berdzikir dan mengingat Allah, tanpa merasa dihakimi.
Meski Gus Miek wafat pada 1993, warisan ini terus dijaga dan dikembangkan oleh para murid dan putra-putranya, termasuk Gus Thuba.
Di era digital, Moloekatan juga hadir melalui siaran daring di berbagai platform, menjangkau jamaah yang tak bisa hadir langsung.
Bagi banyak orang, Moloekatan bukan sekadar majelis dzikir, melainkan jalan pulang. Sebuah warisan spiritual yang tak hanya hidup, tapi juga terus menghidupkan.
Penulis: MG25 Hafidzah Aulia Salsabila
Sumber : Jawa Pos